Statistik Pengunjung

hari ini1248
kemarin0
minggu ini1248
bulan ini1248
Total81515

IP anda 54.226.168.96 info Unknown - Unknown Jumat, 18 April 2014 20:09

Online

Guests : 21 guests online Members : No members online
Powered by CoalaWeb
Anda disini: Beranda

Artikel

Bedah Berkas menjadi metode Bintek Hakim PTA Banten

Hakim PA harus memperhatikan performa selain menguasai hukum acara

Anyer | pta-banten.net (30/03/2012)
Pembukaan resmi kegiatan bimbingan teknis hakim pengadilan agama se- wilayah PTA Banten di hotel Mambruk Anyer Banten hari ini berlangsung lancar. Kegiatan yang akan berlangsung selama 2 (dua) hari tersebut mengikutsertakan seluruh pendekar hukum peradilan agama se wilayah PTA Banten yang berjumlah kurang lebih 53 (lima puluh tiga) orang. Dipilihnya penghujung hari kerja sebagai waktu penyelenggaraan bintek dimaksudkan agar seluruh hakim dapat mengikuti tanpa terkecuali setelah menyelesaikan tugas pokok (persidangan) pada hari-hari kerja aktif.

Yang mulia Hakim Agung MARI Prof.DR.H. Abdul Manan, SH, S.Ip, M.Hum berkesempatan hadir mewakili Tuada MARI Uldilag untuk memberikan pengarahan sekaligus membuka resmi kegiatan. Banyak pencerahan yang disampaikan Hakim Agung yang sangat familiar di lingkungan peradilan agama tersebut disambut dengan penuh antusias.

Hakim harus mengerti sedikit dari banyak hal

Secara gamblang Prof. Manan mengulas tentang bagaimana kondisi peradilan agama beserta perjalanannya dari waktu ke waktu. Termasuk kondisi para aparat peradilan khususnya hakim yang memegang peranan penting di dalam perkembangan peradilan agama. Menurut prof. Manan yang mengutip pendapat prof. Bustanul Arifin, terdapat 3 (tiga) kelemahan yang ada di dalam tubuh para pembuat putusan (hakim) hingga saat ini, yaitu perasaan tidak pede (minder), fanatik terhadap madzhab tertentu dan banyak tuntutan. Dari ketiga kelemahan tersebut, hal yang paling dominan adalah rasa rendah diri yang tidak mudah hilang. Perasaan minder tersebut disinyalir bersumber dari beberapa hal diantaranya karena kapasitas yang kurang memadai. Untuk itu, hakim agung yang sangat aktif menulis ini menghimbau agar hakim pengadilan agama selalu berupaya meningkatkan kemampuan, banyak membaca dan harus mengerti banyak hal sekalipun sedikit-sedikit. Hal ini selain akan mengatasi rasa minder ketika diberikan pertanyaan yang bukan berasal dari bidang keilmuan, tetapi akan sanggup memberikan jawaban (nyambung).


Cukup menarik sentilan yang disampaikan prof.Manan mengenai kapasitas ‘aksesoris’ hakim yang mungkin terlupakan. Bahwa hakim pengadilan agama harus menjaga performa (penampilan) sebagai pelengkap. Tidak hanya hukum acara yang dikuasai,  tetapi performa pun penting. Tidak sedikit hakim pengadilan agama yang tidak perduli dengan penampilannya. Akibatnya, masyarakat apriori dan memandang sebelah mata terhadap hakim yang tidak berpenampilan menarik atau asal bahkan secara sepintas hakim agama mudah dikenali namun dengan stigma yang kurang baik. Hal ini berimbas pula pada hasil kinerja yang kurang mendapat diapresiasi.

Selain memompa aspek immateriil yang harus diperhatikan hakim, hukum acara yang telah menjadi makanan sehari-hari tetap harus menjadi concern utama agar menjadi kemampuan yang semakin teruji dan menghasilkan output (putusan) yang berkualitas. Beberapa permasalahan krusial yang masih sering keliru dalam tahap penyelesaian, harus terus dikaji agar aturan yang sebenarnya sudah jelas dapat diimplementasikan dengan baik. Tentang kewenangan mengadili sengketa ekonomi syari’ah, decente, novum adalah sebagian materi yustisial yang juga secara gamblang dipaparkan oleh prof. Manan sebelum beliau mengetuk palu tanda resminya kegiatan orientasi Tugas diselenggarakan.